Belajar dari Een Sukaesih
Hingga, waktu
yang ditetapkan tiba. Seorang teman saya mengunduh gambar nya di Whatapp saat
tiba di ruangan Makmal program, Subhanalloh…gemetar hati saya melihat sosoknya
yang diluar perkiraan saya, sosok guru yang sempurna, masih tegar berdiri. Namun Beliau hanya terbaring di atas bansal
layaknya orang yang sedang menjalankan perawatan di rumah sakit.
Een Sukaesih,
Wanita kelahiran Sumedang 10 Agustus
1963, memang sudah 32 tahun menderita penyakit Rheumatoid arthritis (RA). Penyakit
ini merupakan penyakit autoimun kronis, progresif dan melumpuhkan, Dan penyakitnya itu membuatnya lumpuh selama
26 tahun. Namun walaupun dengan cobaan
yang bertubi-tubi itu tak terlihat ada kelelahan di wajahnya. Beliau senantiasa
menebar kemanfaatan dengan tetap mengajar, walaupun tidak dibayar. Beliau
ikhlas melakukan semua itu, dan hanya kepada Allah swt diserahkan segala
usahanya itu.
Satu perkataan
yang membuat hati saya bergetar, Bu Een berkata; saya ingin seperti Jendral
Sudirman, walaupun dalam keadaan sakit beliau tetap bersemangat memimpin
pasukan untuk melawan penjajah.
Sahabat Guru
Indonesia…
Sering kali kita
mengeluh, pusing sedikit sekali saja membatalkan diri untuk berangkat mengajar,
mengabaikan siswa yang menanti untai ilmu yang akan kita berikan. Kita sering
disibukkan dengan urusan yang bersifat materil saja. Menghitung jumlah yang
kita dapatkan bukan menghitung jumlah yang kita berikan untuk sekolah. Semangat
kita bertumbuh, ketika awal bulan dan layu menjelang akhir bulan.
Guru adalah
pemegang amanah yang di titahkan oleh
sang pencipta untuk menebarkan pengetahuan di muka bumi ini.
Menjadi guru
sangatlah mulia, mulia di mata manusia dan Allah swt. Sangat merugi jika kita
hanya menghitung nilai yang tidak seberapa di dunia ini, sehingga melupakan
nilai yang sangat hakiki yang akan menghantarkan kita pada surga Nya. Ketika seorang guru sedang mengajar
sesungguhnya ia telah menginvestasikan sebuah amal yang sangat besar yang terus
mengalir hingga akhir hayatnya.
Ingatlah hukum
kekekalan energi, Jumlah energi di alam semesta menurut Hukum Kekelan Energi
bersifat tetap. Ia tidak akan diciptakan lagi dan tidak akan pernah hilang.
Artinya energi di alam semesta jumlahnya sama, sejak awal penciptaan hingga
kemusnahannya nanti. Tuhan menciptakan alam semesta secara sempurna dan tidak
mungkin melakukan tambal sulam. Semuanya telah disiapkan secara lengkap,
termasuk besaran energi di dalamnya.
Berdasarkan
Hukum Kekekalan Energi, nilai energi yang kembali, pasti sama dengan nilai
energi yang dikeluarkan. Bila anda mengeluarkan energi sebesar 10 maka anda
pasti akan mendapatkan balasan senilai 10. Ternyata energi di dunia ini ada dua
kategori yaitu energi positif dan energi negatif. Bila kita melakukan aktifitas
positif maka itu adalah energi positif (epos). Sebaliknya bila kita melakukan
perbuatan negatif maka itu adalah energi negatif.
Balasan dari
perbuatan yang kita lakukan tergantung dari jenis energi yang kita keluarkan.
Apabila kita mengeluarkan epos maka akan berbuah kebaikan, kedamaian, kebahagiaan
dan hal positif lainnya. Sementara bila kita mengeluarkan energi negatif maka
yang akan kita panen adalah penderitaan, musibah, bencana, rasa sakit, dan hal
negatif lainnya. (jamil azzaini)
Jika saat ini
kita berlelah dalam mengajar, sesungguhnya kita telah menabung energy positif
untuk diri kita, Tuhan pasti akan mengembalikanya sesuai dengan usaha dan
keringat kita, jika tidak di dunia, tersenyumlah untuk menantinya di akhirat
nanti. Salam penyulutjiwa.


0 komentar:
Posting Komentar