Guru dalam tempurung,
bukan AKU!
Jika berbicara pendidikan maka guru
tidak bisa dilepaskan dalam pembahasan didalamnya, karena sejatinya gurulah
actor terpenting dalam pelaksanaannya di lapangan.
Menengok sejarah Jepang yang kini
menjadi salah satu negara tersukses di asia, pasca dibomnya dua kota besar di
Jepang, Hirosima dan Nagasaki, yang ditanyakan Kaisar Jepang pada saat itu
adalah berapa jumlah guru yang masih hidup?
mengapa Jepang melakukan ini, karena
mereka menyadari bahwa dengan adanya guru perubahan sebuah negara bisa
dilakukan, maju mundurnya sebuah negara bisa diupayakan dengan memperbaiki sistem
pendidikannya.
Apakah hanya banyaknya guru yang
dibutuhkan? Tentu tidak hanya kuantitas, tapi kualitas menjadi penting untuk
melakukan sebuah perubahan.
Jika dilihat
dari rasio jumlah guru berbanding jumlah peserta didik di Indonesia merupakan
yang "termewah" di dunia. Rasio di Indonesia, ungkapnya, sekitar
1:18. Angka tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan negara maju
seperti Korea (1:30), atau Jerman (1:20.(www.Kompas.com)
Jika melihat rasio ini, tentunya guru di
Indonesia mencukupi, Permasalahan yang ada hanyalah penyebaran yang tidak
merata, namun ini tidak menjadikan Indonesia lebih baik pendidikannya
dibandingkan dengan Korea atau Jerman.
Secara umum,
kualitas guru dan kompetensi guru di Indonesia juga masih belum sesuai dengan
yang diharapkan. Dari sisi kualifikasi pendidikan, hingga saat ini, dari 2,92
juta guru, baru sekitar 51 persen yang berpendidikan S-1 atau lebih, sedangkan
sisanya belum berpendidikan S-1.
Begitu pun dari persyaratan sertifikasi, hanya 2,06 juta guru atau
sekitar 70,5 persen guru yang memenuhi syarat sertifikasi. Adapun 861.67 guru
lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi, yakni sertifikat yang menunjukkan
guru tersebut profesional.(www.Kompas.com)
Saat ini, kita kehabisan guru-guru
yang menginspirasi, guru-guru yang kreatif dan berkualitas. guru saat ini lebih
senang berdiam dalam “tempurungnya”.
Tentu kita masih ingat pribahasa
bagai katak dalam tempurung, pribahasa yang mempunyai arti orang yang wawasannya tidak terlalu
luas, ia tidak tahu situasi lain, selain di sekitar tempatnya berada saja, kira-kira seperti itulah.
Menggambarkan masih banyak guru yang masih nyaman mengajar dengan pola lama,
tidak mengajar sesuai zaman peserta didiknya. Lebih sering memperbicangkan haknya
daripada kewajibannya, padahal guru sebagai sebuah profesi yang utama bagi
sebuah negara mempunya peran yang lebih hebat, lebih mulia dari apa yang
sekarang guru lakukan.
Ada sebuah kata bijak yang
menuliskan, Mengajar adalah profesi yang
mengajarkan semua profesi yang lainnya.
Saat membaca kata bijak di
atas, saya termenung cukup lama dan berpikir tentang kedalaman profesi guru.
Saya
berpikir profesi guru amat sangat penting dalam mencetak generasi bangsa yang
berkualitas. Ketika guru mengajar dalam satu kelas, maka sesungguhnya guru
telah mendidik potensi bangsa ini. Bayangkan jika guru yang mengajar pada saat
itu tidak mengajar dengan semestinya, maka berapa potensi bangsa ini yang akan
hancur? Belum lagi dengan kelas yang lainnya? belum lagi dengan sekolah yang
lainnya? Dan bagaimana Indonesia nantinya?
Akan
berapa banyak lagi asset bangsa ini yang akan hancur?
Jika
hal ini terjadi, ketika guru tidak menempatkan fungsi sebagaimana mestinya,
bangsa dan negara ini akan tertinggal dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang kian waktu tidak terbendung lagi perkembangannya, sehingga tidak
salah jika kita menempatkan guru sebagai salah satu kunci pembangunan bangsa,
untuk menjadi bangsa yang maju di masa yang akan datang.
Diantara tujuh peran guru yang disampaikan WF
Connell, diantaranya adalah guru sebagai Model dan Pelajar.
Guru sebagai
model atau contoh bagi anak, setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi
contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku guru harus sesuai
dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Tentu sangat
disayangkan jika saat ini masih ada guru yang merokok sambil mengajar, sangat
disayangkan jika masih ada guru yang sibuk update status di media social saat
kegiatan mengajar berlangsung.
Ketahuilah, jika
guru kencing berdiri maka murid akan kencing berlari.
Pemandangan anak
berseragam sekolah, sambil menikmati rokoknya sudah menjadi pemandangan
sehari-hari disekitar kita. Inilah hasil serapan nilai siswa jika guru belum
menjadi model.
Guru sebagai
pelajar, kewajiban
menuntut ilmu tidak berhenti walau sudah menjadi guru, justru seorang guru
dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan
dan keterampilan yang dimilikinya tidak ketinggalan jaman.
Saat ini
perkembangan teknologi sangat pesat perkembangannya, generasi saat ini adalah
generasi C (connection), informasi apapun dapat diperoleh dengan mudah dan
cepat, jika guru tidak berusaha untuk mengikuti trend ini, bisa saja guru
tertinggal jauh dengan siswanya. Wawasannya hanya terbatas dibuku paket
pelajaran saja.
Subhanalloh, Ternyata peran seorang guru tidak hanya
mengajar saja, memberikan materi maka selesailah tugasnya, tidak hanya itu. Jika
kesemuanya dilaksanakan maka lahirlah guru yang inspiratif yang menjadi agen of change di negara ini, Jika
gurunya baik, maka baiklah bangsa ini.
Keluarlah dari barisan guru yang terkurung
dalam tempurung, pecahkan tempurung itu dan jadilah guru hebat yang
menginspirasi.
Saatnya katakan; Guru dalam tempurung, buka
AKU.


0 komentar:
Posting Komentar